Sabtu, 11 Juli 2020
Materi Rangkuman Komputerisasi Peranggaran
ANALISIS PENYIMPANGAN BIAYA
Dalam mekanisme penerapan anggaran maupun dalam konsep Manajemen By
Objektive (MBO) maka salah satu teknis yang selalu diterapkan adalah analisis
variance atau analisis penyimpangan. Analisis ini dilakukan dengan cara
memperbandingkan antara anggaran dan realiasi. Perbedaan antara angka anggaran
dengan realisasi ini disebut penyimpangan atau variance.
Menurut Munandar (2003 : 20) ,menyatakan bahwa : Laporan anggaran
(Anggaran Report), yaitu laporan tentang realisasi pelaksanaan anggaran, yang
dilengkapi dengan berbagai analisa perbandingan antara anggaran dengan realisasinya
itu, sehingga dapat diketahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, baik
penyimpangan yang bersifat negatif (merugikan). Dapat diketahui sebab-sebab
terjadinya penyimpangan-penyimpangan, sehingga dapat ditarik beberapa kesimpulan
dan beberapa tindakan lanjut (follow up) yang segera perlu dilakukan.
Mulyadi (2003 : 415) menyatakan : “Biaya standar adalah biaya yang
ditentukan di muka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan
untuk membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu, di bawah
asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan faktor-faktor lain tertentu”.
Mulyadi (2003 : 424) mengemukakan : Penyimpangan biaya sesungguhnya
dari biaya standar disebut dengan selisih (variance). Selisih biaya sesungguhnya
dengan biaya standar dianalisis, dan dari analisis ini diselidiki penyebab terjadinya,
untuk kemudian dicari jalan untuk mengatasi terjadinya selisih yang merugikan.
Namun sebagaimana yang namanya taksiran, maka tidak selalu anggaran itu
benar, dan tidak juga selalu sama dengan realisasi. Sehingga penyimpangan ini jangan
terus dianggap sebagai suatru kesalahan. Menurut Harahap (2003 : 223),
penyimpangan bisa juga disebabkan oleh :(1) Kesalahan anggaran, (2)Kesalahan
akuntansi, (3) Klasifikasi atau pencatatan dan (4) Kesalahan operasi.
Penyimpangan ini harus dianalisis penyebabnya. Biasanya perusahaan harus
menetapkan ukuran mana yang mesti dilakukan investigasi dan mana yang tidak perlu
dilakukan investigasi. Standar penentuan ini biasanya melihat benefit costnya. Jika biaya investigasi atau penyimpangan ini lebih besar dari pada taksiran yang dihemat
maka biasanya tidak perlu dilakukan investigasi, sebaliknya jika yang dihemat jauh
lebih besar dari biaya investigasi maka harus dilaksanakan investigasi penyebab
penyimpangan. Kecuali dalam hal tertentu yang sifatnya material atau berpotensi
beresiko besar maka kendatipun ukurannya kecil namun harus menjadi bahan
investigasi. Kegunaannya bukan untuk melihat penyimpangan itu tapi melihat
kemungkinan pelajaran yanga dapat diambil untuk menjadi bahan dalam operasi
mendatang.
Menurut Harahap (2003 : 224) penyimpangan anggaran biaya terdiri atas:
a. Penyimpangan dalam hal biaya langsung, dibagi :
1) Penyimpangan harga beli
2) Penyimpangan Kuantitas pembelian
b. Penyimpangan dalam hal biaya upah langsung, dibagi :
1) Penyimpangan tingkat upah
2) Penyimpangan tidak efisiensi upah
c. Penyimpangan dalam hal biaya overhead, dibagi :
1) Penyimpangan pemakaian
2) Penyimpangan kapasitas
3) Penyimpangan efisiensi
A. ANALISIS PENYIMPANGAN ANGGARAN
Contoh :
Perusahaan “MAJU JAYA” menggunakan biaya standar dan anggaran fleksibel.
Manager pembelian bertanggungjawab atas penyimpaangan harga bahan baku, dan
manajer produksi bertanggungjawab atas segala penyimpangan yang lain.
Operasional minggu lalu dirangkum sebagai berikut:
- Unit barang jadi yang diproduksi: 5.000 unit.
- Bahan baku langsung : Pembelian 10.000 kg, @ Rp 1,50.
- Harga standar @ Rp 1.60 per kg. Digunakan 5.400 kg.
- Standar yang diperkenankan per unit barang jadi = 1 kg.
- Upah kerja langsung: biaya aktual 8.000 jam @ Rp 3.05. atau total Rp 24.400,-
- Standar per unit produk = 1 ½ jam.
- Upah standar Rp 3,- per jam.
- Overhead produksi variabel : Aktual Rp 8.800,-
- Standar = Rp 1,- per jam kerja langsung.
B. PENYIMPANGAN BAHAN LANGSUNG
Dalam analisis ini digunakan singkatan sebagai berikut:
PBAF = Penyimpangan Bahan Anggaran Fleksibel
PHB = Penyimpangan Harga Bahan
PEB = Penyimpangan Efisiensi Bahan
QBSs = Quantitas Pembelian Bahan Sesungguhnya
HSs = Harg Bahan Sesungguhnya
HSt = Harga Bahan Standar
OSs = Output Sesungguhnya
ISs = Input Sesungguhnya
ISt = Input Standar
C. PENYIMPANGAN TENAGA KERJA LANGSUNG
Singkatan yang digunakan :
PTKAF = Penyimpangan Tenaga Kerja Anggaran Fleksibel
JSs = Jam Sesungguhnya
PUTK = Penyimpangan Upah Tenaga Kerja
JSt = Jam Standar
Uss = Upah Sesungguhnya
PETK = Penyimpangan Efisiensi Tenaga Kerja
Oss = Output Sesungguhnya
D. PENYIMPANGAN OVERHEAD VARIABEL
POHAF = Penyimpangan Overhead Anggaran Fleksibel
OHSs = Overhead Sesungguhnya
PTOH = Penyimpangan Tarif Overhead
TOHSt = Tarif Overhead Standar
Oss = Output Sesungguhnya
PEOH = Penyimpangan Efisiensi Overhead
JSt = Jam kerja Standar
TOHSs = Tarif Overhead Sesungguhnya
JSs = Jam Sesungguhnya
E. ANALISIS LANJUTAN BIAYA TAK LANGSUNG
(OVERHEAD)
Pada analisis sebelumnya, analisis overhead tidak mengikutsertakan overhead
tetap. Walaupun ini sudah dipelajari pada bagian biaya standar, tetapi perlu diingatkan
kembali dan untuk mengadakan perbandingan.
Misalnya : Jumlah biaya produksi tak langsung Rp 8.,000,- yang terdiri dari tetap
Rp. 3.200,- dan variable Rp 4.800,- sedangkan jam kerja normal pada
biaya ini adalah 4.000 jam atau 4 jam per produksi.
Pada suatu aktivitas sesungguhnya :
- Dikeluarkan overhead sebesar Rp 7,384,-
- Jam kerja sebenarnya 3.475 jam
- Produksi sebenarnya 850 produk.
F. PENYIMPANGAN CAMPURAN BAHAN DAN HASIL
Dalam perusahaan industri terutama industri yang menggunakan sistem
proses, perusahaan menggunakan kombinasi dari berbagai jenis bahan baku, dan hasil
yang merupakan bagian penting dalam kalkulasi harga pokok.
Selain penyimpangan-penyimpangan yang telah dibahas pada bagian
sebelumnya, maka untuk perusahaan seperti ini diperlukan suatu analisis khusus
yaitu:
OHSs
Rp. 7.384
PP
Rp. 14 Rugi
POH
Rp.584 Rugi
OHSt
Rp. 6.800
PP
Rp. 14 Rugi
PK
Rp. 420 Rugi
PE
Rp. 150 Rugi
PK
Rp. 420 Rugi
PEV
Rp. 90 Rugi
PET
Rp. 60 Rugi
PT
Rp. 104 Rugi
PV
Rp. 480 Rugi
10
1. Selisih Campuran
Selisih campuran bahan baku, yaitu penyimpangan yang ditimbulkan
adanya perbedaan antara spesifikasi (yang ditentukan) dengan standar dan
campuran sesungguhnya.
2. Selisih Hasil
Yaitu penyimpangan yang disebabkan karena hasil campuran yang dicapai
berbeda dari hasil campuran yang diharapkan berdasarkan input.
KESIMPULAN
Analisis penyimpangan biaya sangat di perlukan suatu perusahaan dalam hal
pengambilan suatu keputusan. Dalam mekanisme penerapan anggaran atau
biaya maupun dalam konsep Manajemen By Objektive (MBO) maka salah
satu teknis yang selalu diterapkan adalah analisis variance atau analisis
penyimpangan.
Analisis penyimpangan ini dilakukan dengan cara memperbandingkan antara
anggaran atau biaya dan realiasi. Perbedaan antara angka anggaran atau biaya
dengan realisasi ini disebut penyimpangan atau variance.
Analisis penyimpangan biaya dapat dihitung sesuai apa yang di butuhkan oleh
suatu perusahaan, misalnya ingin menghitung :
Analisis penyimpangan anggaran
Penyimpangan bahan langsung
Penyimpangan tenaga kerja langsung
Penyimpangan overhead variabel
Analisis lanjutan biaya tak langsung (Overhead)
Penyimpangan campuran bahan dan hasil
DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi, “Akuntansi Biaya”, STIE Yayasan Keluarga Pahlawan
Negara,Yogyakarta, 1991.
http://xa.yimg.com/kq/groups/22316722/250953079/name/Cost_Accounting_
DTSS_PCA.pdf
Ahmad, Kamaruddin. 1996. Akutansi Manajemen. Jakarta: PT . Raja Grafindo
Persada.
http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html
Sabtu, 04 Juli 2020
Komunikasi Bisnis
1. Jelaskan mengenai ability to communicate dan berikan contohnya dalam hubungannya dengan suatu bisnis yang ada !
2. Sebutkan serta berikan penjelasan singkat mengenai kemungkinan terjadinya kegagalan dalam bisnis,
3. Sehubungan dengan soal nomer 2 tadi, bagaimana cara mengantisipasi hal tersebut menurut sudut pandang anda!
4. Berikan penjelasan tentang hubungan antara marketing mix dengan kemampuan berkomunikasi dalam suatu keberhasilan didalam perusahaan/usaha !
5. Jelaskan mengenai jenis partnership !
Jawaban :
1.
Kemampuan berkomunikasi bagi seorang PR sangatlah penting. Komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dalam bentuk lisan, yakni ia harus mampu berbicara di depan umum, harus mampu melakukan presentasi, mampu mewawancarai dalam upaya mengumpulkan fakta dan data, dan diwawancarai pers atau wartawan sebagai sumber berita dan kemampuan berkomunikasi lisan lainnya.
Dalam komunikasi tulisan harus mampu membuat press release untuk dikirim ke media massa, membuat artikel dan feature untuk house jurnal yang akan diterbitkan perusahaan, menulis laporan, membuat naskah pidato untuk manajemen, menulis konsep iklan layanan masyarakat, menulis brosur dan selebaran dan bentuk komunikasi tulisan lainnnya.
2.
- Takut mengambil Resiko
Banyak pengusaha yang gagal menjalankan bisnis karena takut mengambil risiko, misalnya risiko dalam menghadapi persaingan, risiko dalam masalah keuangan, dan lain sebagainya
- Terlalu Teburu - buru
Banyak pengusaha yang mengalami kegagalan karena terburu-buru dalam menjalankan sebuah bisnis, misalnya terburu-buru dalam mengembangkan bisnis.
- Tidak Percaya Diri
Hal ini biasanya akan dialami ketika otak Anda dipenuhi dengan pikiran negatif. Tidak percaya diri biasanya akan menyebabkan rasa takut ketika Anda harus mengambil sebuah keputusan atau menyerah ketika mengalami kegagalan. Dengan rasa tidak percaya diri, Anda sama dengan melewatkan kesempatan yang datang kepada Anda.
3. Menurut saya, Sebaiknya kita harus lebih Optimis dan Berani mengambil resiko dan menyiapkannya dengan matang untuk meraih kesuksesan
4. Contoh Marketing Communication mix yang memiliki Product Positioning yang cukup baik, dimana produsen memposisikan suatu produk yang dihasilkan mampu menarik perhatian dan pikiran konsumennya untuk membeli produk tersebut, dan produsen mampu memposisikan produknya dengan produk sejenis, maupun produk pionirnya. Agar produk yang dihasilkan dapat diketahui dan dikenal oleh masyarakat luas, maka produsen harus mempromosikan produk tersebut melalui bantuan media melalui iklan.
5.
1. Awareness Partnership
Tujuan dari awareness partnership ini adalah untuk meningkatkan visibilitas dan pengenalan untuk nama brand-mu.
2. Brand Partnership
Brand partnership adalah partnership yang sangat krusial untuk meningkatkan brand image dan brand affinity dan meningkatkan legitimasi brand-mu.
3. Functional partnership
Partnership jenis ini bisa meningkatkan fungsionalitas produk yang kamu tawarkan kepada konsumen. Dengan partnership jenis ini, kedua brand akan bisa mengoptimalkan fungsi produknya, dan memberi kepuasan lebih untuk pengguna.
Selasa, 12 Mei 2020
ANALISIS PENYIMPANGAN BIAYA PRODUKSI
SEBAGAI ALAT KONTROL EFISIENSI PERUSAHAAN
PADA PERUSAHAAN TAPIOKA “RJB” LAMPUNG TIMUR
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perusahaan Tapioka “RJB” Lampung Timur merupakan perusahaan yang mengolah bahan baku singkong menjadi tepung tapioka. Perusahaan berusaha berproduksi dengan tingkat biaya seefisien mungkin, hal ini agar produksi yang dihasilkan mempunyai daya saing dalam harga dan kualitas produk. Untuk itu perusahaan harus memperhatikan fungsi perencanaan khususnya bidang prosuksi, karena biaya produksi akan mempengaruhi harga pokok penjualan. Perusahaan harus dapat menekan biaya produksi tanpa mengurangi kulaitas produknya sehingga perusahaan dapat menetapkan harga jual produk yang terjangkau oleh masyarakat/konsumen. Untuk pengemdalian biaya produksi perusahaan mempunyai standar biaya yang telah ditetapkan dalam bentuk anggaran biaya produksi, namun tidak menjadi jaminan bahwa realisasi biaya yang terjadi akan sama dengan biaya yang direncanakan. Salah satu alat yang digunakan untuk menganalisis keberhasilan pelaksanaan anggaran biaya produksi adalah analisis penyimpangan biaya produksi, dengan analisis ini akan diketahui penyebab terjadinya penyimpangan biaya produksi tersebut dan perusahaan dapat mengantisipasi untuk tahun-tahun mendatang. Adapun komponen-komponen biaya produksi meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Analisi selisih sangat penting bagi manajemen sebagai alat penilai pertanggungjawaban maupun sebagai alat pengendali (efisiensi) antara anggaran dan realisasi biaya. Dari latar belakang di atas penulis berkeinginan untuk meneliti “Analisis Penyimpangan Biaya Produksi Sebagai Alat Kontrol Efisiensi Perusahaan Pada Perusahaan Tapioka “Rjb” Lampung Timur”
1. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1) Apakah yang menjadi faktor penyebab penyimpangan biaya produksi pada tahun 2012 dan 2013 pada Perusahaan Tapioka “RJB” Lampung Timur?
2) Berapa besar penyimpangan biaya produksi pada tahun 2012 dan 2013 pada Perusahaan Tapioka “RJB” Lampung Timur?
2. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk:
1) Menganalisis faktor penyebab penyimpangan biaya produksi pada tahun 2012dan 2013 pada Perusahaan Tapioka “RJB” Lampung Timur.
2) Mengetahui besar penyimpangan biaya produksi pada tahun 2012 dan 2013 pada Perusahaan Tapioka “RJB” Lampung Timur.
B. LANDASAN TEORI
a. Biaya Produksi
i. Pengertian Biaya Produksi Menurut Mulyadi ( 2000 ) biaya produksi adalah biaya-baiaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap dijual.
ii. Penggolongan Biaya Produksi Biaya produksi dapat digolongkan dalam beberapa bagian :
1. Biaya bahan baku, adalah harga perolehan dari bahan baku yang dipakai dalam mengolah produk. Bahan baku, adalah bahan yang akan diolah menjadi bagian produk selesai dari pemakaiannya dapat diidentifikasikan atau diikuti jejaknya atau merupakan bagian integral pada produk tertentu.
2. Biaya tenaga kerja langsung, adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan yang langsung terkait produksi.
3. Biaya overhead pabrik, adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, diantaranya : biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, penyusutan aktiva tetap pabrik, reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap, biaya listrik dan air, dan biaya asuransi pabrik. iii. Tujuan Pengendalian Biaya Produksi Tujuan pengemdalian biaya produksi adalah untuk memperoleh jumlah produksi atas hasil yang sebesar-besarnya dengan kualitas yang diharapkan, dari pemakaian sejumlah bahan, tenaga kerja atau fasilitas lainnya agar memperoleh hasil yang maksimum dengan biaya sekecil-kecilnya.
b. Biaya Standar
i. Pengertian Biaya Standar Menurut Mulyadi ( 2000 ) adalah biaya yang ditentukan dimuka yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satuan-satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu di bawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan faktor-faktor lain tertentu.
ii. Pengertian Standar Biaya Bahan Baku Standar biaya bahan baku adalah biaya bahan baku yang seharusnya terjadi dalam pengolahan satu satuan produksi.
iii. Pengertian Standar Biaya Tenaga Kerja Langsung Standar biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya terjadi didalam pengolahan satu satuan produk.
iv. Pengertian Standar Biaya Overhead Pabrik Standar biaya overhead pabrik adalah biaya overhead pabrik yang seharusnya terjadi didalam pengolahan satu satuan produk.
c. Analisis Selisih Selisih adalah perbedaan antara biaya menurut standar dengan biaya sesungguhnya terjadi, dan sebab-sebab terjadinya selisih. Dengan menganalisis selisih menjadi petunjuk adanya ketidaktepatan, ketidakefisienan dari pelaksanaan (tidak standar).
3. KERANGKA PIKIR
C. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1) Metode penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang dilakukan melalui literatur yang terkait;
2) Penelitian lapangan, yaitu penelitian yang dilakukan dengan melakukan penelitian langsung di perusahaan dengan melihat dokumen yang dimiliki perusahaan.
1. ALAT ANALISIS DATA
a. Analisis Kuantatif Analisis kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis selisih (variance analysis), analisis yang dimaksud adalah : Biaya Produksi: - Biaya Bahan Baku - Biaya Tenaga Kerja Langsung - Biaya Overhead Pabrik Biaya Produksi Standar Biaya Produksi Sesungguhnya/ Nyata Efisiensi Selisih
a) Selisih biaya bahan baku langsung, terdiri dari: - Selisih harga bahan baku/Material Price Variance (MPV) SHBB = (HA x KA) – (HS x KA) = (HA - HS) KA Dimana : SHBB = Selisih Harga Bahan Baku HA = Harga Aktual per Unit KA = Kuantitas Aktual Bahan Baku yang digunakan HS = Harga Standar per Unit - Selisih kuantitas bahan baku/Material Quantity Variance (MQV) SKBB = (KA - KS) x HS Dimana : SKBB = Selisih Kuantitas Bahan Baku KA = Kuantitas Aktual Bahan Baku yang digunakan KS = Kuantitas Standar Bahan Baku yang diperoleh HS = Harga Standar per Unit
b) Selisih tenaga kerja langsung/Labour Rate Variance (LRV) STTK = (TA x JA) – (TS x JA) = (TA – TS) JA Dimana : STTK = Selisih Tarif Tenaga Kerja TA = Tarif Aktual Tenaga Kerja JA = Jam Kerja Aktual yang digunakan TS = Tarif Standar Jam Kerja
c) Selisih biaya overhead pabrik Untuk selisih biaya overhead pabrik digunakan analisis 3 selisih, yaitu: - Selisih pengeluaran/Spending Variance (SV) SPOV = (TAOV x JA) – (TSOV x JA) = (TAOV) – TSOV) JA Dimana : SPOV = Selisih Pengeluaran Overhead Variabel TAOV = Tarif Aktual Overhead Variabel TSOV = Tarif Standar Overhead Variabel JA = Jam Kerja Aktual - Selisih Kapasitas/Capacity Variance (CV) SK = (KA – KS) x TT Dimana : SK = Selisih Kapasitas KA = Kapasitas Aktual KS = Kapasitas Standar TT = Tarif Tetap - Selisih Efisiensi/Efficiency Variance (EV) SEOV = (TSOV – JA) – (TSOV x JS) = (JA – JS) TSOV Dimana : SEOV = Selisih Efisiensi Overhead Variabel TSOV = Tarif Standar Overhead Variabel JS = Jam Kerja Standar JA = Jam Kerja Aktual
b. Analisis Kualitatif Dalam memecahkan masalah dalam penelitian ini menggunakan metode komperatif dengan analisis kualitatif yaitu hubungan sebab akibat dengan jalan meneliti faktor-faktor tertentu yang ada hubungannya dengan pekerjaan tertentu melalui pendekatan manajemen produksi yang orientasinya pada proses produksi.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
c. Penentuan Standar Produksi
1. Standar Bahan Baku Perusahaan menetapkan standar bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan satu unit barang sebelum memproduksi barang. Tabel 1. Standar Pemakaian Bahan Baku Singkong Pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 2012 2013 Jumlah Produksi (Zak) Pemakaian Singkong (Kg) Jumlah Produksi (Zak) Pemakaian Singkong (Kg) 145.000 60.506.700 325.500 135.733.500 Sumber: Perusahaan Tapioka “RJB” Untuk harga bahan baku perusahaan telah menetapkan harga bahan baku yaitu : - Tahun 2012 harga singkong Rp. 465,00/Kg - Tahun 2013 harga singkong Rp. 880,00/Kg Penetapan harga standar yang ditentukan perusahaan didasarkan pada perkiraan dengan dasar tahun-tahun sebelumnya.
2. Standar Tenaga Kerja Langsung
a. Standar Upah Standar upah pada Perusahaan Tapioka “RJB” adalah: - Tahun 2012 sebesar Rp. 850.000,00/bulan - Tahun 2013 sebesar Rp. 1.050.000,00/bulan Jumlah tenaga kerja langsung pada Perusahaan Tapioka “RJB” adalah: - Tahun 2012 sebanyak 50 orang - Tahun 2013 sebanyak 60 orang Untuk hari kerja dalam satu bulan ditetapkan sebanyak 26 hari. Dari data di atas besar tarif upah yang ditetapkan perusahaan yaitu: - Tahun 2012 = (50 x Rp. 850.000,00) / 50 x 26 = Rp. 42.500.000 / 1.300 = Rp. 32.692,00 = Rp. 32.700,00/hari (pembulatan kebijakan perusahaan) - Tahun 2013 = (60 x Rp. 1.050.000,00) / 60 x 26 = Rp. 63.000.000 / 1.560 = Rp. 40.385 = Rp. 40.400,00/hari (pembulatan kebijakan perusahaan)
b. Standar Jam Kerja / Efisiensi Dalam satu tahun Perusahaan Tapioka “RJB” standar produksi yang ditetapkan sebanyak 145.000 zak atau 465 zak per hari. Untuk tahun 2013 berproduksi sebanyak 325.500 zak atau 1.043 zak per hari. Dalam satu hari seorang karyawan bekerja selama 7 jam yang diselingi istirahat satu jam yaitu pukul 12.00 – 13.00. Berdasarkan data di atas dapat ditentukan standar jam kerja/efisiensi karyawan langsung selama satu tahun dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Standar jam kerja/efisiensi 2012 = (produksi normal satu tahun/produksi normal per hari) x jam kerja per hari = (145.000/465) x 7 jam = 311,83 x 7 jam = 2.182,81 jam Standar jam kerja/efisiensi 2013 = (produksi normal satu tahun/produksi normal per hari) x jam kerja per hari = (325.500/1.043) x 7 jam = 312,08 x 7 jam = 2.184,56 jam
c. Standar Overhead Pabrik Besar tarif Overhead Pabrik dihitung dengan rumus BOP = anggaran biaya Overhead Pabrik / standar jam kerja langsung Tabel 2. Anggaran Biaya Overhead Pabrik pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Macam Biaya Biaya (Rp) 2012 2013 BOP Variabel - Upah tak langsung - Bahan penolong - Listrik - Bahan bakar + pelumas - Pemeliharaan dan reparasi BOP Tetap - Depresiasi mesin + peralatan - Depresiasi bangunan - Asuransi 240.886.500,00 10.113.500,00 30.000.000,00 30.000.000,00 30.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000.00 20.000.000,00 300.888.000,00 10.112.000,00 30.000.000,00 30.000.000,00 30.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000.00 20.000.000,00 Jumlah 451.000.000,00 511.000.000,00 Sumber: Perusahaan Tapioka “RJB” Besar tarif biaya Overhead Pabrik tahun 2012 dapat diketahui : BOP = anggaran biaya Overhead Pabrik / standar jam kerja langsung BOP = Rp. 451.000.000,00 / 2.182,81 jam BOP = Rp. 206.614,41 Besar tarif biaya Overhead Pabrik tahun 2013 dapat diketahui : BOP = anggaran biaya Overhead Pabrik / standar jam kerja langsung BOP = Rp. 511.000.000,00 / 2.184,56 jam BOP = Rp. 233.914,38
d. Biaya Sesungguhnya
1. Biaya Bahan Baku Sesungguhnya
a. Pemakaian Sesungguhnya Tabel 3. Realisasi Pemakaian Bahan Baku Singkong Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Tahun 2012 Tahun 2013 60.606.600 135.833.400 Sumber : Perusahaan Tapioka “RJB”
b. Harga Beli Bahan Baku Sesungguhnya - Tahun 2012 harga singkong Rp. 575,00/Kg - Tahun 2013 harga singkong Rp. 970,00/Kg
3. Biaya Tenaga Kerja Langsung Sesungguhnya
a. Upah Tenaga Kerja Langsung Standar upah pada Perusahaan Tapioka “RJB” adalah: - Tahun 2012 sebesar Rp. 875.000,00/bulan - Tahun 2013 sebesar Rp. 1.100.000,00/bulan Jumlah tenaga kerja langsung pada Perusahaan Tapioka “RJB” adalah: - Tahun 2012 sebanyak 52 orang - Tahun 2013 sebanyak 64 orang Untuk hari kerja dalam satu bulan ditetapkan sebanyak 26 hari. Dari data di atas besar tarif upah yang bayarkan perusahaan yaitu: - Tahun 2012 = (52 x Rp. 875.000,00) / 52 x 26 = Rp. 45.500.000 / 1.352 = Rp. 33.653,85 = Rp. 33.700,00/hari (pembulatan kebijakan perusahaan) - Tahun 2013 = (64 x Rp. 1.100.000,00) / 64 x 26 = Rp. 70.400.000 / 1.664 = Rp. 42.307,69 = Rp. 42.300,00/hari (pembulatan kebijakan perusahaan)
b. Jam Kerja / Efisiensi yang Sesunggguhnya Tabel 4. Realisasi Produksi Tapioka Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Tahun 2012 Tahun 2013 144.375 325.452 Sumber : Perusahaan Tapioka “RJB” Jam kerja/efisiensi 2012 = (produksi sesungguhnya satu tahun/produksi sesungguhnya per hari) x jam kerja per hari = (144.375/462,74) x 7 jam = 312 x 7 jam = 2.184 jam Jam kerja/efisiensi 2013 = (produksi sesungguhnya satu tahun/produksi sesungguhnya per hari) x jam kerja per hari = (325.452/1.043,12) x 7 jam = 312 x 7 jam = 2.184 jam
c. Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya Tabel 5. Realisasi Biaya Overhead Pabrik pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Macam Biaya Biaya (Rp) 2012 2013 BOP Variabel - Upah tak langsung - Bahan penolong - Listrik - Bahan bakar + pelumas - Pemeliharaan dan reparasi BOP Tetap - Depresiasi mesin + peralatan - Depresiasi bangunan - Asuransi 240.886.500,00 10.113.500,00 35.000.000,00 35.000.000,00 35.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000.00 20.000.000,00 300.888.000,00 10.112.000,00 35.000.000,00 35.000.000,00 35.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000.00 20.000.000,00 Jumlah 466.000.000,00 526.000.000,00 Sumber: Perusahaan Tapioka “RJB”
e. Analisa Penyimpangan Biaya Produksi Tahun 2012 dan 2013
1. Penyimpangan Harga Bahan Baku/Material Price Variance (MPV) SHBB = (HA x KA) – (HS x KA) = (HA - HS) KA Dimana : SHBB = Selisih Harga Bahan Baku HA = Harga Aktual per Unit KA = Kuantitas Aktual Bahan Baku yang digunakan HS = Harga Standar per Unit Tabel 6. Perhitungan Selisih Harga Bahan Baku Singkong pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Tahun (1) Harga Singkong Kuantitas Aktual BB digunakan (Kg) (4) Selisih Harga Bahan Baku (Rp) (3-2) x 4 Standar (2) Nyata (3) 2012 465 575 60.606.600 6.666.726.000 2013 880 970 135.833.400 12.225.006.000 Sumber : Data Diolah
2. Penyimpangan Selisih Kuantitas Bahan Baku/Material Quantity Variance (MQV) SKBB = (KA - KS) x HS Dimana : SKBB = Selisih Kuantitas Bahan Baku KA = Kuantitas Aktual Bahan Baku yang digunakan KS = Kuantitas Standar Bahan Baku yang diperoleh HS = Harga Standar per Unit Tabel 7. Perhitungan Selisih Kuantitas Bahan Baku Singkong pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Tahun (1) Kuantitas Pemakaian Harga Standar (Rp) (4) Selisih Kuantitas (Rp) (3-2) x 4 Standar (2) Nyata (3) 2012 60.506.700 60.606.600 465 46.453.500 2013 135.733.500 135.833.400 880 87.912.000 Sumber : Data Diolah
3. Penyimpangan Tarif Upah Tenaga Kerja Langsung/Labour Rate Variance (LRV) STTK = (TA x JA) – (TS x JA) = (TA – TS) JA Dimana : STTK = Selisih Tarif Tenaga Kerja TA = Tarif Aktual Tenaga Kerja JA = Jam Kerja Aktual yang digunakan TS = Tarif Standar Jam Kerja Tabel 8. Perhitungan Penyimpangan Tarif Upah pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Tahun (1) Tarif Upah Per Hari Jam Kerja Sesungguhnya (4) Selisih Tarif (Rp) (3-2) x 4 Standar (2) Nyata (3) 2012 32.700 33.700 2.184 2.184.000 2013 40.400 42.300 2.184 4.149.600 Sumber : Data Diolah
4. Penyimpangan Biaya Overhead Pabrik Untuk Penyimpangan Biaya Overhead Pabrik digunakan analisis 3 selisih, yaitu:
a. Penyimpangan pengeluaran/Spending Variance (SV)
Tahun 2012 BOP Sesungguhnya Rp. 466.000.000,00 Anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya Tetap Rp. 11.000.000,00 Variabel Rp. 440.000.000,00 Rp. 451.000.000,00 – Penyimpangan Pengeluaran (Rp. 15.000.000,00) Tahun 2013 BOP Sesungguhnya Rp. 526.000.000,00 Anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya Tetap Rp. 11.000.000,00 Variabel Rp. 500.000.000,00 Rp. 511.000.000,00 – Penyimpangan Pengeluaran (Rp. 15.000.000,00)
b. Penyimpangan Kapasitas/Capacity Variance (CV) Tahun 2012 Kapasitas Sesungguhnya Rp. 451.000.000,00 Jam Kerja Sesunguhnya 2.184 Tarif Overhead Standar 206.614,41 x Rp. 451.245.871,44 – Penyimpangan kapasitas (Rp. 245.871,44)
Tahun 2013 Kapasitas Sesungguhnya Rp. 511.000.000,00 Jam Kerja Sesunguhnya 2.184 Tarif Overhead Standar 233.914,38 x Rp. 510.869.005,92 – Penyimpangan kapasitas (Rp. 130.994,08)
c. Penyimpangan Efisiensi/Efficiency Variance (EV) Tahun 2012 Jam Kerja Sesunguhnya 2.184 Tarif Overhead Standar 206.614,41 x Rp. 451.245.871,44 Jam Kerja Standar 2.182,81 Tarif Overhead Standar 206.614,41 x Rp. 451.000.000,29 – Penyimpangan efisiensi (Rp. 245.871,15) Tahun 2013 Jam Kerja Sesunguhnya 2.184 Tarif Overhead Standar 233.914,38 x Rp. 510.869.005,92 Jam Kerja Standar 2.184,56 Tarif Overhead Standar 233.914,38 x Rp. 510.999.997,97 – Penyimpangan efisiensi (Rp. 130.992,05)
f. Sebab-sebab Terjadinya Penyimpangan Biaya Produksi dalam Hubungannya dengan Efisiensi Perusahan
1. Sebab terjadinya penyimpangan bahan baku
a. Penyimpangan kuantitas bahan baku Penyimpangan kuantitas bahan baku singkong pada tahun 2012 sebesar Rp. 46.453.500,00 disebabkan oleh adanya perubahan rancangan produk yang belum dinyatakan dalam standar sehingga penggunaan bahan baku lebih besar dari yang telah distandarkan. Penyimpangan kuantitas bahan baku singkong pada tahun 2013 sebesar Rp. 87.912.000,00 bersifat tidak menguntungkan, disebabkan oleh penggunaan bahan baku yang rusak atau tercecer karena cara kerja para pekerja yang belum profesional. Dan juga disebabkan oleh kurangnya pengawasan dalam penggunaan bahan baku sehingga bahan baku yang digunakan tidak sesuai dengan yang dianggrakan. b. Penyimpangan harga bahan baku Penyimpangan harga bahan baku singgkong pada tahun 2012 sebesar Rp. 6.666.726.000,00 dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 12.225.006.000,00 bersifat tidak menguntungkan , hal ini disebabkan karena harga bahan baku yang dibeli lebih tinggi dibandingkan dengan harga bahan baku yang dianggarkan sebagai akibat fluktuasi harga bahan baku akibat faktor permintaan dan penawaran pasar yang selalu berubah. Hal ini menunjukkan adanya kelemahan perusahaan dalam memperkirakan harga bahan baku, oleh karena itu dituntut kecermatan manajer dalam menafsirkan perkiraan bahan baku yang terjadi agar tidak terjadi pengeluaran biaya-biaya diluar yang telah dianggarkan.
2. Sebab terjadinya penyimpangan tarif upah Penyimpangan tarif upah pada tahun 2012 sebesar Rp. 2.184.000,00 dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 4.149.600,00 bersifat tidak menguntungkan, hal ini disebabkan oleh :
- Tamabahan upah karena peraturan upah minimum yang ditetapkan pemerintah.
- Kenaikan pangkat karyawan yang berakibat tambahan upah dari yang telah dianggarkan.
3. Sebab terjadinya penyimpangan biaya overhead pabrik
a. Penyimpangan pengeluaran Penyimpanngan pengeluaran pada tahun 2012 sebesar Rp. 15.000.000,00 bersifat tidak menguntungkan, disebabkan oleh biaya yang dikeluarkan untuk upah langsung, bahan penolong, listrik, serta bahan bakar dan pelumas lebih besar dari yang dianggarkan. Penyimpanngan pengeluaran pada tahun 2013 sebesar Rp. 15.000.000,00 bersifat tidak menguntungkan, disebabkan oleh biaya yang dikeluarkan untuk upah langsung, bahan penolong, listrik, bahan bakar dan reparasi, keadaan ini menunjukkan kelemahan dalam penyusunan anggaran biaya overhead pabrik yang ditunjukkan dengan sifat penyimpangan yang selalu berubah setiap tahunnya.
b. Penyimpangan kapasitas Penyimpanngan kapasitas pada tahun 2012 sebesar Rp. 245.871,44 dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 130.994,08 bersifat tidak menguntungkan, hal ini disebabkan oleh volume produksi lebih rendah dari kapasitas normal sehingga ada kapasitas menganggur.
c. Penyimpangan efisiensi Penyimpangan efisiensi pada tahun 2012 sebesar Rp. 245.871,15dan pada thun 2016 sebesar Rp. 130.992,05 bersifat tidak menguntungkan. Hal ini disebabkan oleh untuk mengolah produk telah dipakai kapasitas sesungguhnya lebih rendah dibandingkan kapasitas standar hal ini menunjukkan perusahaan dalam memanfaatkan kapasitas produksinya belum efisien. Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang dikemukakan sudah terbukti, yaitu adanya selisih anggaran dan realisasi biaya produksi yang bersifat merugikan.
E. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan Untuk mengetahui apakah telah digunakan analisis penyimpangan biaya produksi sebagai alat kontrol efisiensi perusahaan pada perusahaan tapioka “RJB” didasarkan pada perhitungan penyimpangan biaya tersebut diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Penyimpangan Bahan Baku Penyimpangan pemakaian bahan baku singkong : - Tahun 2015 = Rp. 46.453.500,00 (tidak menguntungkan) - Tahun 2016 = Rp 87.912.000,00 (tidak menguntungkan) Sifat penyimpangan selama dua tahun tersebut menunjukkan adanya kelemahan perusahaan dalam memperkirakan harga bahan baku yang terjadi pada tahun berikutnya. Penyebab penyimpangan harga bahan baku ini terutama adalah fluktuasi harga bahan baku akibat faktor permintaan dan penawaran pasar yang selalu berubah dari waktu ke waktu.
2. Penyimpangan harga bahan baku - Tahun 2015 = Rp. 6.666.726.000,00 (tidak menguntungkan) - Tahun 2016 = Rp. 12.225.006.000,00 (tidak menguntungkan) Hal ini menunjukkan belum efisiennya perusahaan dalam penggunaan bahan baku, dikarenakan keterampilan karyawan masih kurang.
3. Penyimpangan tarif upah - Tahun 2015 = Rp. 2.184.000,00 (tidak menguntungkan) - Tahun 2016 = Rp. 4.149.600,00 (tidak menguntungkan) Hal ini menunjukkan tidak diperhitungkannya jumlah karyawan baru dan karyawan yang naik pangkat dalam penyusunan anggaran biaya tenaga kerja.
4. Sebab terjadinya penyimpangan biaya overhead pabrik
a. Penyimpangan pengeluaran - Tahun 2012 = Rp. 15.000.000,00 (tidak menguntungkan) - Tahun 2013 = Rp. 15.000.000,00 (tidak menguntungkan) Keadaan ini menunjukkan adanya kelemahan dalam penyusunan anggaran biaya overhead pabrik terutama biaya variabel, dimana dapat dilihat sifat dari penyimpangan yang selalu berubah setiap tahun.
b. Penyimpangan kapasitas - Tahun 2012 = Rp. 245.871,44 (tidak menguntungkan) - Tahun 2013 = Rp. 130.994,08 (tidak menguntungkan) Penyimpangan ini disebabkan perusahaan belum dapat dan perlu meningkatkan kapasitas produksinya sehingga kapasitas produksi normal dapat dicapai tanpa mengurangi kualitas produk.
c. Penyimpangan efisiensi - Tahun 2012 = Rp. 245.871,15 (tidak menguntungkan) - Tahun 2013 = Rp. 130.992,05 (tidak menguntungkan) Penyimpangan ini disebabkan oleh perusahaan mengalami penurunan efisiensi dalam pemanfaatan kapasitas produksiny, sehingga perlu meningkatkan kapasitasnya.
2. Saran
1) Perusahaan harus memperhitungkan setiap gerak kenaikan harga singkong. Untuk mengurangi ketergantungan singkong terhadap pihak luar hendaknya pabrik menanam sendiri singkong yang diperlukan.
2) Perusahaan melakukan prediksi kenaikan upah karyawan tahun mendatang dengan lebih tepat.
3) Perusahaan mengurangi pengeluaran yang belum perlu.
4) Perusahaan meningkatkan produktivitas karyawan/tenaga kerja.
5) Perusahaan mengurangi waktu mengangggur.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi.2000. Akuntansi Biaya. Edisi Kelima. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perusahaan Tapioka “RJB” Lampung Timur merupakan perusahaan yang mengolah bahan baku singkong menjadi tepung tapioka. Perusahaan berusaha berproduksi dengan tingkat biaya seefisien mungkin, hal ini agar produksi yang dihasilkan mempunyai daya saing dalam harga dan kualitas produk. Untuk itu perusahaan harus memperhatikan fungsi perencanaan khususnya bidang prosuksi, karena biaya produksi akan mempengaruhi harga pokok penjualan. Perusahaan harus dapat menekan biaya produksi tanpa mengurangi kulaitas produknya sehingga perusahaan dapat menetapkan harga jual produk yang terjangkau oleh masyarakat/konsumen. Untuk pengemdalian biaya produksi perusahaan mempunyai standar biaya yang telah ditetapkan dalam bentuk anggaran biaya produksi, namun tidak menjadi jaminan bahwa realisasi biaya yang terjadi akan sama dengan biaya yang direncanakan. Salah satu alat yang digunakan untuk menganalisis keberhasilan pelaksanaan anggaran biaya produksi adalah analisis penyimpangan biaya produksi, dengan analisis ini akan diketahui penyebab terjadinya penyimpangan biaya produksi tersebut dan perusahaan dapat mengantisipasi untuk tahun-tahun mendatang. Adapun komponen-komponen biaya produksi meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Analisi selisih sangat penting bagi manajemen sebagai alat penilai pertanggungjawaban maupun sebagai alat pengendali (efisiensi) antara anggaran dan realisasi biaya. Dari latar belakang di atas penulis berkeinginan untuk meneliti “Analisis Penyimpangan Biaya Produksi Sebagai Alat Kontrol Efisiensi Perusahaan Pada Perusahaan Tapioka “Rjb” Lampung Timur”
1. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1) Apakah yang menjadi faktor penyebab penyimpangan biaya produksi pada tahun 2012 dan 2013 pada Perusahaan Tapioka “RJB” Lampung Timur?
2) Berapa besar penyimpangan biaya produksi pada tahun 2012 dan 2013 pada Perusahaan Tapioka “RJB” Lampung Timur?
2. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk:
1) Menganalisis faktor penyebab penyimpangan biaya produksi pada tahun 2012dan 2013 pada Perusahaan Tapioka “RJB” Lampung Timur.
2) Mengetahui besar penyimpangan biaya produksi pada tahun 2012 dan 2013 pada Perusahaan Tapioka “RJB” Lampung Timur.
B. LANDASAN TEORI
a. Biaya Produksi
i. Pengertian Biaya Produksi Menurut Mulyadi ( 2000 ) biaya produksi adalah biaya-baiaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap dijual.
ii. Penggolongan Biaya Produksi Biaya produksi dapat digolongkan dalam beberapa bagian :
1. Biaya bahan baku, adalah harga perolehan dari bahan baku yang dipakai dalam mengolah produk. Bahan baku, adalah bahan yang akan diolah menjadi bagian produk selesai dari pemakaiannya dapat diidentifikasikan atau diikuti jejaknya atau merupakan bagian integral pada produk tertentu.
2. Biaya tenaga kerja langsung, adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan yang langsung terkait produksi.
3. Biaya overhead pabrik, adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, diantaranya : biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, penyusutan aktiva tetap pabrik, reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap, biaya listrik dan air, dan biaya asuransi pabrik. iii. Tujuan Pengendalian Biaya Produksi Tujuan pengemdalian biaya produksi adalah untuk memperoleh jumlah produksi atas hasil yang sebesar-besarnya dengan kualitas yang diharapkan, dari pemakaian sejumlah bahan, tenaga kerja atau fasilitas lainnya agar memperoleh hasil yang maksimum dengan biaya sekecil-kecilnya.
b. Biaya Standar
i. Pengertian Biaya Standar Menurut Mulyadi ( 2000 ) adalah biaya yang ditentukan dimuka yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satuan-satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu di bawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan faktor-faktor lain tertentu.
ii. Pengertian Standar Biaya Bahan Baku Standar biaya bahan baku adalah biaya bahan baku yang seharusnya terjadi dalam pengolahan satu satuan produksi.
iii. Pengertian Standar Biaya Tenaga Kerja Langsung Standar biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya terjadi didalam pengolahan satu satuan produk.
iv. Pengertian Standar Biaya Overhead Pabrik Standar biaya overhead pabrik adalah biaya overhead pabrik yang seharusnya terjadi didalam pengolahan satu satuan produk.
c. Analisis Selisih Selisih adalah perbedaan antara biaya menurut standar dengan biaya sesungguhnya terjadi, dan sebab-sebab terjadinya selisih. Dengan menganalisis selisih menjadi petunjuk adanya ketidaktepatan, ketidakefisienan dari pelaksanaan (tidak standar).
3. KERANGKA PIKIR
C. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1) Metode penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang dilakukan melalui literatur yang terkait;
2) Penelitian lapangan, yaitu penelitian yang dilakukan dengan melakukan penelitian langsung di perusahaan dengan melihat dokumen yang dimiliki perusahaan.
1. ALAT ANALISIS DATA
a. Analisis Kuantatif Analisis kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis selisih (variance analysis), analisis yang dimaksud adalah : Biaya Produksi: - Biaya Bahan Baku - Biaya Tenaga Kerja Langsung - Biaya Overhead Pabrik Biaya Produksi Standar Biaya Produksi Sesungguhnya/ Nyata Efisiensi Selisih
a) Selisih biaya bahan baku langsung, terdiri dari: - Selisih harga bahan baku/Material Price Variance (MPV) SHBB = (HA x KA) – (HS x KA) = (HA - HS) KA Dimana : SHBB = Selisih Harga Bahan Baku HA = Harga Aktual per Unit KA = Kuantitas Aktual Bahan Baku yang digunakan HS = Harga Standar per Unit - Selisih kuantitas bahan baku/Material Quantity Variance (MQV) SKBB = (KA - KS) x HS Dimana : SKBB = Selisih Kuantitas Bahan Baku KA = Kuantitas Aktual Bahan Baku yang digunakan KS = Kuantitas Standar Bahan Baku yang diperoleh HS = Harga Standar per Unit
b) Selisih tenaga kerja langsung/Labour Rate Variance (LRV) STTK = (TA x JA) – (TS x JA) = (TA – TS) JA Dimana : STTK = Selisih Tarif Tenaga Kerja TA = Tarif Aktual Tenaga Kerja JA = Jam Kerja Aktual yang digunakan TS = Tarif Standar Jam Kerja
c) Selisih biaya overhead pabrik Untuk selisih biaya overhead pabrik digunakan analisis 3 selisih, yaitu: - Selisih pengeluaran/Spending Variance (SV) SPOV = (TAOV x JA) – (TSOV x JA) = (TAOV) – TSOV) JA Dimana : SPOV = Selisih Pengeluaran Overhead Variabel TAOV = Tarif Aktual Overhead Variabel TSOV = Tarif Standar Overhead Variabel JA = Jam Kerja Aktual - Selisih Kapasitas/Capacity Variance (CV) SK = (KA – KS) x TT Dimana : SK = Selisih Kapasitas KA = Kapasitas Aktual KS = Kapasitas Standar TT = Tarif Tetap - Selisih Efisiensi/Efficiency Variance (EV) SEOV = (TSOV – JA) – (TSOV x JS) = (JA – JS) TSOV Dimana : SEOV = Selisih Efisiensi Overhead Variabel TSOV = Tarif Standar Overhead Variabel JS = Jam Kerja Standar JA = Jam Kerja Aktual
b. Analisis Kualitatif Dalam memecahkan masalah dalam penelitian ini menggunakan metode komperatif dengan analisis kualitatif yaitu hubungan sebab akibat dengan jalan meneliti faktor-faktor tertentu yang ada hubungannya dengan pekerjaan tertentu melalui pendekatan manajemen produksi yang orientasinya pada proses produksi.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
c. Penentuan Standar Produksi
1. Standar Bahan Baku Perusahaan menetapkan standar bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan satu unit barang sebelum memproduksi barang. Tabel 1. Standar Pemakaian Bahan Baku Singkong Pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 2012 2013 Jumlah Produksi (Zak) Pemakaian Singkong (Kg) Jumlah Produksi (Zak) Pemakaian Singkong (Kg) 145.000 60.506.700 325.500 135.733.500 Sumber: Perusahaan Tapioka “RJB” Untuk harga bahan baku perusahaan telah menetapkan harga bahan baku yaitu : - Tahun 2012 harga singkong Rp. 465,00/Kg - Tahun 2013 harga singkong Rp. 880,00/Kg Penetapan harga standar yang ditentukan perusahaan didasarkan pada perkiraan dengan dasar tahun-tahun sebelumnya.
2. Standar Tenaga Kerja Langsung
a. Standar Upah Standar upah pada Perusahaan Tapioka “RJB” adalah: - Tahun 2012 sebesar Rp. 850.000,00/bulan - Tahun 2013 sebesar Rp. 1.050.000,00/bulan Jumlah tenaga kerja langsung pada Perusahaan Tapioka “RJB” adalah: - Tahun 2012 sebanyak 50 orang - Tahun 2013 sebanyak 60 orang Untuk hari kerja dalam satu bulan ditetapkan sebanyak 26 hari. Dari data di atas besar tarif upah yang ditetapkan perusahaan yaitu: - Tahun 2012 = (50 x Rp. 850.000,00) / 50 x 26 = Rp. 42.500.000 / 1.300 = Rp. 32.692,00 = Rp. 32.700,00/hari (pembulatan kebijakan perusahaan) - Tahun 2013 = (60 x Rp. 1.050.000,00) / 60 x 26 = Rp. 63.000.000 / 1.560 = Rp. 40.385 = Rp. 40.400,00/hari (pembulatan kebijakan perusahaan)
b. Standar Jam Kerja / Efisiensi Dalam satu tahun Perusahaan Tapioka “RJB” standar produksi yang ditetapkan sebanyak 145.000 zak atau 465 zak per hari. Untuk tahun 2013 berproduksi sebanyak 325.500 zak atau 1.043 zak per hari. Dalam satu hari seorang karyawan bekerja selama 7 jam yang diselingi istirahat satu jam yaitu pukul 12.00 – 13.00. Berdasarkan data di atas dapat ditentukan standar jam kerja/efisiensi karyawan langsung selama satu tahun dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Standar jam kerja/efisiensi 2012 = (produksi normal satu tahun/produksi normal per hari) x jam kerja per hari = (145.000/465) x 7 jam = 311,83 x 7 jam = 2.182,81 jam Standar jam kerja/efisiensi 2013 = (produksi normal satu tahun/produksi normal per hari) x jam kerja per hari = (325.500/1.043) x 7 jam = 312,08 x 7 jam = 2.184,56 jam
c. Standar Overhead Pabrik Besar tarif Overhead Pabrik dihitung dengan rumus BOP = anggaran biaya Overhead Pabrik / standar jam kerja langsung Tabel 2. Anggaran Biaya Overhead Pabrik pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Macam Biaya Biaya (Rp) 2012 2013 BOP Variabel - Upah tak langsung - Bahan penolong - Listrik - Bahan bakar + pelumas - Pemeliharaan dan reparasi BOP Tetap - Depresiasi mesin + peralatan - Depresiasi bangunan - Asuransi 240.886.500,00 10.113.500,00 30.000.000,00 30.000.000,00 30.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000.00 20.000.000,00 300.888.000,00 10.112.000,00 30.000.000,00 30.000.000,00 30.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000.00 20.000.000,00 Jumlah 451.000.000,00 511.000.000,00 Sumber: Perusahaan Tapioka “RJB” Besar tarif biaya Overhead Pabrik tahun 2012 dapat diketahui : BOP = anggaran biaya Overhead Pabrik / standar jam kerja langsung BOP = Rp. 451.000.000,00 / 2.182,81 jam BOP = Rp. 206.614,41 Besar tarif biaya Overhead Pabrik tahun 2013 dapat diketahui : BOP = anggaran biaya Overhead Pabrik / standar jam kerja langsung BOP = Rp. 511.000.000,00 / 2.184,56 jam BOP = Rp. 233.914,38
d. Biaya Sesungguhnya
1. Biaya Bahan Baku Sesungguhnya
a. Pemakaian Sesungguhnya Tabel 3. Realisasi Pemakaian Bahan Baku Singkong Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Tahun 2012 Tahun 2013 60.606.600 135.833.400 Sumber : Perusahaan Tapioka “RJB”
b. Harga Beli Bahan Baku Sesungguhnya - Tahun 2012 harga singkong Rp. 575,00/Kg - Tahun 2013 harga singkong Rp. 970,00/Kg
3. Biaya Tenaga Kerja Langsung Sesungguhnya
a. Upah Tenaga Kerja Langsung Standar upah pada Perusahaan Tapioka “RJB” adalah: - Tahun 2012 sebesar Rp. 875.000,00/bulan - Tahun 2013 sebesar Rp. 1.100.000,00/bulan Jumlah tenaga kerja langsung pada Perusahaan Tapioka “RJB” adalah: - Tahun 2012 sebanyak 52 orang - Tahun 2013 sebanyak 64 orang Untuk hari kerja dalam satu bulan ditetapkan sebanyak 26 hari. Dari data di atas besar tarif upah yang bayarkan perusahaan yaitu: - Tahun 2012 = (52 x Rp. 875.000,00) / 52 x 26 = Rp. 45.500.000 / 1.352 = Rp. 33.653,85 = Rp. 33.700,00/hari (pembulatan kebijakan perusahaan) - Tahun 2013 = (64 x Rp. 1.100.000,00) / 64 x 26 = Rp. 70.400.000 / 1.664 = Rp. 42.307,69 = Rp. 42.300,00/hari (pembulatan kebijakan perusahaan)
b. Jam Kerja / Efisiensi yang Sesunggguhnya Tabel 4. Realisasi Produksi Tapioka Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Tahun 2012 Tahun 2013 144.375 325.452 Sumber : Perusahaan Tapioka “RJB” Jam kerja/efisiensi 2012 = (produksi sesungguhnya satu tahun/produksi sesungguhnya per hari) x jam kerja per hari = (144.375/462,74) x 7 jam = 312 x 7 jam = 2.184 jam Jam kerja/efisiensi 2013 = (produksi sesungguhnya satu tahun/produksi sesungguhnya per hari) x jam kerja per hari = (325.452/1.043,12) x 7 jam = 312 x 7 jam = 2.184 jam
c. Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya Tabel 5. Realisasi Biaya Overhead Pabrik pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Macam Biaya Biaya (Rp) 2012 2013 BOP Variabel - Upah tak langsung - Bahan penolong - Listrik - Bahan bakar + pelumas - Pemeliharaan dan reparasi BOP Tetap - Depresiasi mesin + peralatan - Depresiasi bangunan - Asuransi 240.886.500,00 10.113.500,00 35.000.000,00 35.000.000,00 35.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000.00 20.000.000,00 300.888.000,00 10.112.000,00 35.000.000,00 35.000.000,00 35.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000.00 20.000.000,00 Jumlah 466.000.000,00 526.000.000,00 Sumber: Perusahaan Tapioka “RJB”
e. Analisa Penyimpangan Biaya Produksi Tahun 2012 dan 2013
1. Penyimpangan Harga Bahan Baku/Material Price Variance (MPV) SHBB = (HA x KA) – (HS x KA) = (HA - HS) KA Dimana : SHBB = Selisih Harga Bahan Baku HA = Harga Aktual per Unit KA = Kuantitas Aktual Bahan Baku yang digunakan HS = Harga Standar per Unit Tabel 6. Perhitungan Selisih Harga Bahan Baku Singkong pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Tahun (1) Harga Singkong Kuantitas Aktual BB digunakan (Kg) (4) Selisih Harga Bahan Baku (Rp) (3-2) x 4 Standar (2) Nyata (3) 2012 465 575 60.606.600 6.666.726.000 2013 880 970 135.833.400 12.225.006.000 Sumber : Data Diolah
2. Penyimpangan Selisih Kuantitas Bahan Baku/Material Quantity Variance (MQV) SKBB = (KA - KS) x HS Dimana : SKBB = Selisih Kuantitas Bahan Baku KA = Kuantitas Aktual Bahan Baku yang digunakan KS = Kuantitas Standar Bahan Baku yang diperoleh HS = Harga Standar per Unit Tabel 7. Perhitungan Selisih Kuantitas Bahan Baku Singkong pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Tahun (1) Kuantitas Pemakaian Harga Standar (Rp) (4) Selisih Kuantitas (Rp) (3-2) x 4 Standar (2) Nyata (3) 2012 60.506.700 60.606.600 465 46.453.500 2013 135.733.500 135.833.400 880 87.912.000 Sumber : Data Diolah
3. Penyimpangan Tarif Upah Tenaga Kerja Langsung/Labour Rate Variance (LRV) STTK = (TA x JA) – (TS x JA) = (TA – TS) JA Dimana : STTK = Selisih Tarif Tenaga Kerja TA = Tarif Aktual Tenaga Kerja JA = Jam Kerja Aktual yang digunakan TS = Tarif Standar Jam Kerja Tabel 8. Perhitungan Penyimpangan Tarif Upah pada Perusahaan Tapioka “RJB” Tahun 2012 dan 2013 Tahun (1) Tarif Upah Per Hari Jam Kerja Sesungguhnya (4) Selisih Tarif (Rp) (3-2) x 4 Standar (2) Nyata (3) 2012 32.700 33.700 2.184 2.184.000 2013 40.400 42.300 2.184 4.149.600 Sumber : Data Diolah
4. Penyimpangan Biaya Overhead Pabrik Untuk Penyimpangan Biaya Overhead Pabrik digunakan analisis 3 selisih, yaitu:
a. Penyimpangan pengeluaran/Spending Variance (SV)
Tahun 2012 BOP Sesungguhnya Rp. 466.000.000,00 Anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya Tetap Rp. 11.000.000,00 Variabel Rp. 440.000.000,00 Rp. 451.000.000,00 – Penyimpangan Pengeluaran (Rp. 15.000.000,00) Tahun 2013 BOP Sesungguhnya Rp. 526.000.000,00 Anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya Tetap Rp. 11.000.000,00 Variabel Rp. 500.000.000,00 Rp. 511.000.000,00 – Penyimpangan Pengeluaran (Rp. 15.000.000,00)
b. Penyimpangan Kapasitas/Capacity Variance (CV) Tahun 2012 Kapasitas Sesungguhnya Rp. 451.000.000,00 Jam Kerja Sesunguhnya 2.184 Tarif Overhead Standar 206.614,41 x Rp. 451.245.871,44 – Penyimpangan kapasitas (Rp. 245.871,44)
Tahun 2013 Kapasitas Sesungguhnya Rp. 511.000.000,00 Jam Kerja Sesunguhnya 2.184 Tarif Overhead Standar 233.914,38 x Rp. 510.869.005,92 – Penyimpangan kapasitas (Rp. 130.994,08)
c. Penyimpangan Efisiensi/Efficiency Variance (EV) Tahun 2012 Jam Kerja Sesunguhnya 2.184 Tarif Overhead Standar 206.614,41 x Rp. 451.245.871,44 Jam Kerja Standar 2.182,81 Tarif Overhead Standar 206.614,41 x Rp. 451.000.000,29 – Penyimpangan efisiensi (Rp. 245.871,15) Tahun 2013 Jam Kerja Sesunguhnya 2.184 Tarif Overhead Standar 233.914,38 x Rp. 510.869.005,92 Jam Kerja Standar 2.184,56 Tarif Overhead Standar 233.914,38 x Rp. 510.999.997,97 – Penyimpangan efisiensi (Rp. 130.992,05)
f. Sebab-sebab Terjadinya Penyimpangan Biaya Produksi dalam Hubungannya dengan Efisiensi Perusahan
1. Sebab terjadinya penyimpangan bahan baku
a. Penyimpangan kuantitas bahan baku Penyimpangan kuantitas bahan baku singkong pada tahun 2012 sebesar Rp. 46.453.500,00 disebabkan oleh adanya perubahan rancangan produk yang belum dinyatakan dalam standar sehingga penggunaan bahan baku lebih besar dari yang telah distandarkan. Penyimpangan kuantitas bahan baku singkong pada tahun 2013 sebesar Rp. 87.912.000,00 bersifat tidak menguntungkan, disebabkan oleh penggunaan bahan baku yang rusak atau tercecer karena cara kerja para pekerja yang belum profesional. Dan juga disebabkan oleh kurangnya pengawasan dalam penggunaan bahan baku sehingga bahan baku yang digunakan tidak sesuai dengan yang dianggrakan. b. Penyimpangan harga bahan baku Penyimpangan harga bahan baku singgkong pada tahun 2012 sebesar Rp. 6.666.726.000,00 dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 12.225.006.000,00 bersifat tidak menguntungkan , hal ini disebabkan karena harga bahan baku yang dibeli lebih tinggi dibandingkan dengan harga bahan baku yang dianggarkan sebagai akibat fluktuasi harga bahan baku akibat faktor permintaan dan penawaran pasar yang selalu berubah. Hal ini menunjukkan adanya kelemahan perusahaan dalam memperkirakan harga bahan baku, oleh karena itu dituntut kecermatan manajer dalam menafsirkan perkiraan bahan baku yang terjadi agar tidak terjadi pengeluaran biaya-biaya diluar yang telah dianggarkan.
2. Sebab terjadinya penyimpangan tarif upah Penyimpangan tarif upah pada tahun 2012 sebesar Rp. 2.184.000,00 dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 4.149.600,00 bersifat tidak menguntungkan, hal ini disebabkan oleh :
- Tamabahan upah karena peraturan upah minimum yang ditetapkan pemerintah.
- Kenaikan pangkat karyawan yang berakibat tambahan upah dari yang telah dianggarkan.
3. Sebab terjadinya penyimpangan biaya overhead pabrik
a. Penyimpangan pengeluaran Penyimpanngan pengeluaran pada tahun 2012 sebesar Rp. 15.000.000,00 bersifat tidak menguntungkan, disebabkan oleh biaya yang dikeluarkan untuk upah langsung, bahan penolong, listrik, serta bahan bakar dan pelumas lebih besar dari yang dianggarkan. Penyimpanngan pengeluaran pada tahun 2013 sebesar Rp. 15.000.000,00 bersifat tidak menguntungkan, disebabkan oleh biaya yang dikeluarkan untuk upah langsung, bahan penolong, listrik, bahan bakar dan reparasi, keadaan ini menunjukkan kelemahan dalam penyusunan anggaran biaya overhead pabrik yang ditunjukkan dengan sifat penyimpangan yang selalu berubah setiap tahunnya.
b. Penyimpangan kapasitas Penyimpanngan kapasitas pada tahun 2012 sebesar Rp. 245.871,44 dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 130.994,08 bersifat tidak menguntungkan, hal ini disebabkan oleh volume produksi lebih rendah dari kapasitas normal sehingga ada kapasitas menganggur.
c. Penyimpangan efisiensi Penyimpangan efisiensi pada tahun 2012 sebesar Rp. 245.871,15dan pada thun 2016 sebesar Rp. 130.992,05 bersifat tidak menguntungkan. Hal ini disebabkan oleh untuk mengolah produk telah dipakai kapasitas sesungguhnya lebih rendah dibandingkan kapasitas standar hal ini menunjukkan perusahaan dalam memanfaatkan kapasitas produksinya belum efisien. Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang dikemukakan sudah terbukti, yaitu adanya selisih anggaran dan realisasi biaya produksi yang bersifat merugikan.
E. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan Untuk mengetahui apakah telah digunakan analisis penyimpangan biaya produksi sebagai alat kontrol efisiensi perusahaan pada perusahaan tapioka “RJB” didasarkan pada perhitungan penyimpangan biaya tersebut diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Penyimpangan Bahan Baku Penyimpangan pemakaian bahan baku singkong : - Tahun 2015 = Rp. 46.453.500,00 (tidak menguntungkan) - Tahun 2016 = Rp 87.912.000,00 (tidak menguntungkan) Sifat penyimpangan selama dua tahun tersebut menunjukkan adanya kelemahan perusahaan dalam memperkirakan harga bahan baku yang terjadi pada tahun berikutnya. Penyebab penyimpangan harga bahan baku ini terutama adalah fluktuasi harga bahan baku akibat faktor permintaan dan penawaran pasar yang selalu berubah dari waktu ke waktu.
2. Penyimpangan harga bahan baku - Tahun 2015 = Rp. 6.666.726.000,00 (tidak menguntungkan) - Tahun 2016 = Rp. 12.225.006.000,00 (tidak menguntungkan) Hal ini menunjukkan belum efisiennya perusahaan dalam penggunaan bahan baku, dikarenakan keterampilan karyawan masih kurang.
3. Penyimpangan tarif upah - Tahun 2015 = Rp. 2.184.000,00 (tidak menguntungkan) - Tahun 2016 = Rp. 4.149.600,00 (tidak menguntungkan) Hal ini menunjukkan tidak diperhitungkannya jumlah karyawan baru dan karyawan yang naik pangkat dalam penyusunan anggaran biaya tenaga kerja.
4. Sebab terjadinya penyimpangan biaya overhead pabrik
a. Penyimpangan pengeluaran - Tahun 2012 = Rp. 15.000.000,00 (tidak menguntungkan) - Tahun 2013 = Rp. 15.000.000,00 (tidak menguntungkan) Keadaan ini menunjukkan adanya kelemahan dalam penyusunan anggaran biaya overhead pabrik terutama biaya variabel, dimana dapat dilihat sifat dari penyimpangan yang selalu berubah setiap tahun.
b. Penyimpangan kapasitas - Tahun 2012 = Rp. 245.871,44 (tidak menguntungkan) - Tahun 2013 = Rp. 130.994,08 (tidak menguntungkan) Penyimpangan ini disebabkan perusahaan belum dapat dan perlu meningkatkan kapasitas produksinya sehingga kapasitas produksi normal dapat dicapai tanpa mengurangi kualitas produk.
c. Penyimpangan efisiensi - Tahun 2012 = Rp. 245.871,15 (tidak menguntungkan) - Tahun 2013 = Rp. 130.992,05 (tidak menguntungkan) Penyimpangan ini disebabkan oleh perusahaan mengalami penurunan efisiensi dalam pemanfaatan kapasitas produksiny, sehingga perlu meningkatkan kapasitasnya.
2. Saran
1) Perusahaan harus memperhitungkan setiap gerak kenaikan harga singkong. Untuk mengurangi ketergantungan singkong terhadap pihak luar hendaknya pabrik menanam sendiri singkong yang diperlukan.
2) Perusahaan melakukan prediksi kenaikan upah karyawan tahun mendatang dengan lebih tepat.
3) Perusahaan mengurangi pengeluaran yang belum perlu.
4) Perusahaan meningkatkan produktivitas karyawan/tenaga kerja.
5) Perusahaan mengurangi waktu mengangggur.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi.2000. Akuntansi Biaya. Edisi Kelima. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Jumat, 01 Mei 2020
Tugas Vclass Komputersasi Peranggaran
Soal
Berikan contoh Pusat pertanggungjawaban pada Pusat Investasi dalam sebuah perusahaan dan berikan analisa pada perusahaan tersebut.
Jawab
Soal
Berikan contoh Pusat pertanggungjawaban pada Pusat Investasi dalam sebuah perusahaan dan berikan analisa pada perusahaan tersebut.
Jawab
Abstrak
Dalam suatu unit usaha, perhatian pimpinan biasanya ada pada laba. Laba ini diperhitungkan dengan cara membandingkan antara pendapatan dengan biaya yang terjadi pada suatu pusat laba. Jika pendapatan lebih besar dari pada biaya maka dikatakan laba, sebaliknya disebut rugi. Perbandingan antara laba dan investasi inilah yang terjadi pada pusat investasi. Pusat Investasi diukur dengan membandingkan laba dan jumlah investasi yang digunakan. Objek pada penelitian adalah pada PT. Freeport Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan pusat investasi yang ada pada PT. Freeport Indonesia dengan mengumpulkan data menggunakan data sekunder. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pusat investasi pada PT Freeport Indonesia sudah baik, terbukti dengan laba yang diperoleh sudah optimal dibandingkan dengan investasi yang digunakan.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Sistem pengendalian manajemen harus didukung dengan struktur organisasi yang baik. Struktur organisasi termanifestasi dalam bentuk struktur pusat pertanggungjawaban (Responsibility centers). Pusat pertanggungjawaban adalah unit organisasi yang dipimpin oleh manajer yang bertanggungjawab terhadap aktivitas pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya. Suatu organisasi merupakan kumpulan dari berbagai pusat pertanggungjawaban salah satunya pesat investasi. Pengertian pusat investasi menurut Mulyadi dalam bukunya “Akuntansi Manajemen : Konsep, Manfaat dan Rekayasa” menerangkan bahwa: “Pusat investasi adalah pusat laba yang manajernya diukur prestasinya dengan menghubungkan laba yang diperoleh pusat pertanggungjawaban tersebut dengan investasi yang bersangkutan” (20014;27)
Kewenangan Pusat Investasi adalah menyangkut pengelolaan laba (yang terdiri atas pendapatan dan biaya) serta mengelola asset yang dipergunakan untuk memperoleh laba. Dengan demikian, Pusat Investasi diukur prestasinya berdasarkan perbandingan antara laba yang diperoleh dengan aset (investasi) yang dipergunakan. Laporan kinerja suatu pusat investasi tidak hanya terbatas pada laba yang diperoleh tapi juga jumlah asset yang digunakan dalam memperoleh laba.
PT. Freeport Indonesia adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang menambang, memproses dan melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak. Beroperasi di daerah dataran tinggi Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Indonesia. Freeport Indonesia memasarkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak ke seluruh penjuru dunia. Tentu tidaklah mudah agar dapat bersaing dan bertahan dengan semakin banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan yang ada, oleh karena itu, Penulis tertarik untuk melakukan peninjauan dan penelitian dengan judul “Analisis Pusat Investasi di PT Freeport Indonesia”
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pusat investas pada PT. Freeport sudah baik dan dapat mengoptimalkan investasi guna memperoleh laba dengan maksimal.
TINJAUAN PUSTAKA
Sistem Pengendalian Manajemen
Anthony dan Govindarajan (2008: 7) yang diterjemahkan oleh Kurniawan, menjelaskan bahwa sebuah sistem merupakan suatu cara tertentu dan biasanya berulang untuk melaksanakan suatu atau serangkaian aktivitas. Sejumlah karakteristik sistem yakni : lebih kurang membentuk ritme tertentu, terkoordinasi, dan mengulangi serangkaian tahapan tertentu guna mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem pengendalian manajemen adalah semua usaha untuk menjamin bahwa sumber daya perusahaan digunakan secara efektif dan efesien untuk mencapai tujuan perusahaan,atau proses untuk mempengaruhi orang lain dalam sebuah perusahaan agar secara efektif dan efesien mencapai tujuan perusahaan melalui strategi tertentu.
Unsur-unsur Sistem Pengendalian Manajemen
Suatu sistem pengendalian manajemen yang dapat diandalkan (reliable) harus memenuhi unsur-unsur berikut (Sumarsan, 2013:9):
a. Keahlian karyawan sesuai dengan tanggung jawabnya.
b. Pemisahan tugas
c. Sistem pemberian wewenang, tujuan dan teknik serta pengawasan yang wajar untuk mengadakan pengendalian atas harta, utang penerimaan dan pengeluaran..
d. Pengendalian terhadap penggunaan harta dan dokumen serta formulir yang penting.
e. Periksa fisik harta dengan catatan-catatan harta dan utang, atau yang benar- benar ada, dan mengadakan tindakan koreksi jika dijumpai adanya perbedaan.
Strategi Organisasi
Organisasi harus berupaya untuk dapat tetap survive dan unggul. Untuk itu, diperlukan berbagai strategi organisasi dalam menghadapi tantangan yang dihadapi. Davis dan Albright (2000) menyatakan berkenaan dengan perubahan yang dilakukan oleh informasi dan teknologi serta dukungan yang ada baik dalam bentuk perintah yang bersifat organisatoris maupun teknis. Sistem informasi baru digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan dengan fasilitasi penyusunan kembali bisnis. Pada kedua lokasi yang diteliti, jumlah tingkatan pelaporan menurun dan hubungan pelaporan tidak terhalang lebih lama oleh lokasi-lokasi geografis dalam struktur organisasi pada perusahaan tersebut.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Gul dan Chia (1994) tentang pengaruh ketidakpastian lingkungan dan desentralisasi terhadap kinerja manajemen, mereka menemukan bahwa desentralisasi dan ketersediaan karakteristik informasi Management Accounting Systems (MAS) pada lingkup yang luas dan agregasi informasi dihubungkan dengan kinerja manajerial yang lebih tinggi terjadi dibawah kondisi perceived environmental uncertainty (PEU) yang tinggi. Sedangkan dibawah kondisi PEU yang rendah, hasilnya sebaliknya yaitu desentralisasi dan ketersediaan lingkup yang luas dan agregasi informasi dihubungkan dengan kinerja manajerial ternyata lebih rendah. Sementara itu, Chong dan Chong (1997) menemukan bahwa strategic business unit (SBU) dan PEU merupakan anteseden dari desain MAS, dan informasi MAS yang memiliki cakupan luas (broad scope MAS information) merupakan sebuah anteseden yang penting bagi kinerja SBU.
Hasil penelitian lainya menyatakan bahwa meskipun pertumbuhan membutuhkan sebuah pendekatan “leading a cross all styles” terhadap manajemen strategi, banyak dari penulis dan praktisi menekankan pada permasalahan strategis yang lebih dekat dihubungkan dengan gaya kepemimpinan strategis yang menjadi preferensi mereka dan pengabdosian (implisit) dari “this by and large” sebagai satu-satunya jalan untuk melakukan manajemen strategi (Richadson, 1994).
Sementara itu, Svensson (2001) menyatakan bahwa banyak yang keliru dalam mengartikan the globalization of business activities and the term “global strategy”. Jargon yang banyak disebut tersebut ternyata tidak dapat mencakup semua kenyataan yang sebenarnya pada pendekatan strategi global, sehingga nampaknya menjadi utopia bagi manajer. Sebagai formula yang ditemukan yaitu glocal strategy dan globalization. Glocal strategy adalah pendekatan yang diinspirasikan dari global strategy approach yang dikarenakan kebutuhan adaptasi lokal dan menyesuaikan dengan aktifitas bisnis secara simultan yang diakuinya. Konsep glocal strategy terdiri dari local, international, multinational, and global strategy approaches.
Strategi lain yang dapat diterapkan adalah dari sisi etika. Kita dapat mengambil contoh yang lebih besar dari suatu organisasi adalah suatu negara. Jika negara yang orang-orang di dalamnya banyak yang melakukan korupsi maka dapat dipastikan negara tersebut akan mengalami kebangkrutan atau kemunduran. Contoh yang sedang kita alami sekarang adalah negara kita, yang masuk peringkat atas dalam hal korupsi sehingga berakibat seperti ini, organisasi negara mengalami defisit yang sangat banyak guna melakukan aktifitas kenegaraan walapun negara kita terkenal dengan negara yang subur. Sungguh merupakan suatu kenyataan anomali pada saat ini.
Dalam organisasi di perusahaan, Key dan Popkin (1998) menyebutkan bahwa dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan etika di dalam strategi pembuatan keputusan akan menghasilkan perkembangan yang lebih efektif dalam strategi jangka pendek dan jangka panjang. Khususnya, kriteria etika harus dimasukkan sebagai bagian dari proses strategi pada saat sebelum dan sesudah keputusan yang menguntungkan guna memaksimalkan keuntungan perusahaan dan meningkatkan strategi perkembangan serta pada saat implementasi.
PEMBAHASAN
Return On Investment
ROI (Return on Investement) merupakan pengukur tingkat kembalian investasi berdasarkan data akuntansi dan telah digunakan secara luas sebagai salah satu pengukur kinerja. Penggunaan data akuntansi untuk menilai kinerja ekonomi masih dipertanyakan validitasnya. Ronen dan Serter (1972) menjelaskan berbagai penyesuaian yang harus dibuat baik untuk data laba akuntansi maupun data neraca agar tingkat kembalian akuntansi (accounting rate of return) dapat menjadi pengukur tingkat kembalian ekonomi (economic rate of return).
Pengujian validitas ROI sebagai pengukur kinerja bisnis memiliki problem empiris, yaitu sulitnya menemukan ukuran obyektif kinerja ekonomi untuk dapat dikaitkan dengan kinerja akuntansi. Hal ini disebabkan laba ekonomi tidak terdefinisi dengan baik. Beberapa peneliti menggunakan return saham sebagai proksi tingkat kembalian ekonomi.
Tingkat kembalian akuntansi (accounting rate of return) yang diukur dengan ROI seringkali digunakan sebagai ukuran kinerja perusahaan padahal sebenarnya ROI mengukur fenomena yang berbeda (Steven, 1990). Dengen demikian, sebenarnya ROI kurang tepat apabila digunakan sebagai pengukur kinerja perusahaan.
Jacobson (1987) mencoba meneliti hubungan tingkat kembalian akuntansi dan tingkat kembalian ekonomi dengan menguji hubungan antara ROI dan return saham. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ROI secara signifikan berkorelasi dengan return saham namun dengan korelasi yang relatif rendah. Rendahnya korelasi ROI dan return saham disebabkan oleh pilihan return saham sebagai variabel dependen. Alasannya, harga saham mencerminkan informasi baru sehingga return saham secara cross-sectional hanya bervariasi dengan perubahan ROI.
Landsman dan Shapiro (1995) menguji hubungan antara ROI dan return ekonomi yang diukur dengan Tobin’s q. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menggunakan Tobin’s q untuk menguji validitas ekonomi ROI. Proposisi yang diajukan adalah apabila tingkat kembalian akuntansi (accounting rate of return) merupakan proksi yang baik bagi tingkat kembalian ekonomi (economic return) maka akan terdapat hubungan positif yang secara statistis signifikan antara ROI sebagai pengukur tingkat kembalian akuntansi dan Tobin’s q sebagai pengukur tingkat kembalian ekonomi (economic rents)
Menurut Landsman dan Shapiro (1995), proposisi tersebut didasarkan pada fakta bahwa semakin tinggi nilai Tobin’s q merefleksikan semakin tingginya economic rent (keuntungan di atas tingkat yang setara dengan resiko investasi) yang pada akhirnya menghasilkan tingkat kembalian ekonomi yang tinggi. Penelitian ini juga memasukkan analisis industri serta biaya promosi dan biaya R & D sebagai variabel tambahan. Dengan menggunakan sampel antara 225 sampai 349 perusahaan setiap tahunnya selama 5 tahun (1979-1983), penelitian ini menunjukkan adanya korelasi yang tinggi dan secara statistis signifikan antara ROI dan Tobin’s q melengkapi penelitian Jacobson (1987). Karena Tobin’s q merefleksikan ekspektasi investor tentang tingkat kembalian ekonomi (economic return) perusahaan di masa depan, maka hasil ini memberikan bukti empiris bahwa data akuntansi mengandung infomasi yang secara ekonomi bermanfaat bagi investor. Menurut Gаrrison dkk (2007:261), “Bаhwа semаkin tinggi Return on Investment suаtu segmen usаhа, semаkin besаr lаbа yаng dihаsilkаn dаri setiаp dolаr yаng diinvestаsikаn dаlаm аktivа operаsi segmen tersebut”.
Perhitungаn Return on Investment (ROI) secаrа sistemаtis dаpаt menggunаkаn rumus sebаgаi berikut:
ROI = Return On Investment
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 = Lаbа bersih setelаh pаjаk x100%
Totаl Аktivа
Residual Income
Residual Income (RI) adalah metode yang digunakan oleh setiap perusahaan untuk menghitung laba sisa perusahaan atau laba residu sekaligus menutupi kelemahan dari metode sebelumnya. RI menurut Hansen dan Mowen (2012:583) menyatakan bahwa merupakan perbedaan antara laba operasi dan pengembalian 3 dolar minimum yang di isyaratkan atas aktiva operasi perusahaan. Manfaat RI bagi perusahaan sangatlah besar karena dengan menggunakan RI perusahaan akan mengetahui besarnya biaya modal perusahaan dan tingkat pengembalian yang ditargetkan untuk investasi.
Analisis RI tersebut dapat mendorong perusahaan untuk lebih memperhatikan struktur modal dan menerima setiap keputusan investasi selama laba yang diperoleh lebih besar dari biaya modal. Teknik analisis ROI dan RI mempunyai standar dalam menilai kinerja keuangan, standar tersebut dapat digunakan sebagai hasil akhir dari perhitungan kedua metode ini. Analisis ROI menurut Prawironegoro (2005:256) dikatakan baik bila nilai ROI diatas biaya modal (WACC) atau positif maka kinerja perusahaan dikatakan baik sebaliknya ROI dibawah biaya modal (WACC) atau negatif maka kinerja perusahaan dikatakan tidak baik, sedangkan menurut Hansen dan Mowen (2012:583) metode RI dikatakan baik apabila lebih dari nol dan dikatakan tidak baik bila kurang dari nol. Hal ini menunjukan bahwa dalam setiap metode perhitungan kinerja keuangan mempunyai standar masing-masing dalam menilai kinerja keuangan perusahaan khususnya ROI dan RI.
Laba merupakan sebuah tolak ukur kinerja dari sebuah perusahaan dan merupakan dasar pengambilan keputusan penting dalam menentukan kebijkan perusahaan. Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) nomor 2 yang mengatakan laba adalah elemen penting bagi pengguna laporan keuangan karena laba mengandung nilai prediktif. Hal ini yang membuat para manajer berusaha untuk menaikan laba yang dilaporkan. Menurut Assih dan Gudono (2000) manajemen laba adalah proses yang disengaja dan terdapat batasan General Accepted AccountingPincipples (GAAP) yang mengacu pada tingkat laba yang diinginkan. Manajemen laba merupakan adanya keterlibatan ketika menyusun laporan keuangan, untuk mendapatkan keuntungan pribadi Schipper dalam (R. Moehrle dan A. Reynolds-Moehrle, 2008).
Analisis
Freeport Indonesia punya posisi maha penting dalam bisnis induknya, Freeport McMoran. Semenjak tahun 2005 hingga bulan September 2015, kontribusi laba operasional Freeport Indonesia terhadap Freeport McMoran mencapai US$24,5 miliar atau Rp342 triliun (asumsi 1$ = Rp14.000). Jumlah ini sebesar 72,7 persen dari total laba operasional yang didapat Freeport McMoran dalam 11 tahun.
Langganan:
Postingan (Atom)